Wartawan dan Marahnya Kepala Daerah
Ada kejadian tak mengenakkan pada hari kemarin. Pak Syamsuar, selaku Gubernur Riau menunjukkan sikap tidak biasa kepada kalangan wartawan yang biasa mangkal di komplek gubernuran. Beliau mempertanyakan tingkat pendidikan salah seorang wartawan yang mencoba mewawancarainya, sarjana atau tidak. Bahkan yang tak mengenakkannya, beliau mengumbar kata 'Bongak' yang entah ditujukan kepada siapa.
Alhamdulillah, menurut informasi terakhir, persoalan sudah selesai. Ternyata semua ada hikmahnya.
Sebagai salah seorang wartawan/jurnalis, tentu saya secara pribadi menyayangkan sikap sang gubernur. 'Keceplosan' itu membuat kami tak enak hati. Jika sang gubernur menyebut dirinya dalam keadaan tertekan, baik karena pekerjaan atau tekanan politik, perkataan tersebut sangat elok. Alangkah lebih baiknnya beliau menahan diri.
Bicara soal tekanan kerja, bahkan tekanan politik, insan jurnalis dalam dekade sekarang ini cukup tertekan dengan profesinya. Dalam kondisi sekarang ini, sangatlah tidak mudah untuk mempertahankan diri sebagai jurnalis. Tekanan kiri kanan muka belakang itu sangat tinggi. Rerata yang masih mempertahankan diri dalam profesi ini adalah berdasarkan panggilan jiwa.
Dunia jurnalistik sekarang ini sedang menghadapi masa sulit. Dari sisi idealisme, modernisasi, finansial, sosial politik hingga demoralisasi profesi. Jurnalis tetap dituntut idealis, sementara sisi lain, para jurnalis ditekan dengan dengan segala persoalannya. Asap di dapur harus juga tetap mengepul, sementara modernisasi dan kebijakan keuangan (iklan-red) mitra profesi sangat minim jika takut disebut tak ada lagi. Semua jurnalis merasakannya saat ini.
Kita fair saja dalam melihat. Semua kita ingin mempertahankan profesi masing-masing, tak terkecuali para jurnalis. Namun, apa yang kami dapat tak sebanding dengan pengorbanan dalam mempertahankan idealisme profesi. Persoalan idealisme sebenarnya tak bisa dibenturkan dengan finansial. Harusnya keduanya seiring sejalan. Idealisme yang tinggi juga dituntut dengan segi finansial yang memadai.
Maka, kita takkan heran, ada sebagian dari 'kami', berselingkuh, mencoba bertahan hidup agar asap dapur terus mengepul.
Pelacuran profesi sebagian dari kami saat ini sedang marak, merusak tatanan sosial bahkan kepercayaan pembaca dan publik. Endemi ini seakan sangat susah untuk diberantas. Butuh kebijaksanaan dari kita untuk menyikapinya.
Untuk itu, kita berharap kepada semua kepala daerah, berbaik-baiklah dengan para wartawan. Jaga-jaga juga perasaan kami. Bahkan bukan saja kepala daerah, pada umumnya adalah mitra profesi.
Apa yang kami berikan itu terkadang tak sebanding dengan apa yang bapak/ibu berikan. Saban hari kami ikut bapak hilir mudik. Menunggu bapak/ibu berjam-jam di pintu keluar ruangan hanya demi sebuah kebenaran atau pembenaran yang bapak/ibu berikan. Lantas apa yang bapak/ibu berikan? Tak lebih dari dua atau tiga advertorial tiap tahunnya. Sebanding tidak? enggak sebanding.
Terkadang kami juga selayaknya Public Relation (PR)-nya bapak/ibu. Mempublikasikan pembenaran seakan kebenaran yang bapak/ibu sampaikan. Apakah para pembaca senang dengan berita tersebut? Sebagian ada yang menyebut kami sudah masuk angin.
Entahlah.
MT
