Salin Print
Mawardi Tombang
Mawardi Tombang - Direktur dan Jurnalis
Success is a mindset, it is not a journey or destination (sukses adalah cara berpikir atau bersikap, bukan perjalanan maupun tujuan.

TIJI TIBEH

Mawardi Tombang
Sabtu, 5 Januari 2019 15:58:03
Pangeran Sambernyowo (foto; jejaktapak)

Oleh: Mawardi Tombang

Tiji Tibeh merupakan filosofi kuno budaya Jawa. Pertama kali diucapkan dan diaplikasikan oleh Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I.

Tiji Tibe merupakan singkatan dari Mati Siji Mati Kabeh atau Mukti Siji Mukti Kabeh kalau diartikulasikan dalam Bahasa Indonesia adalah Mati Satu Matu Semuanya dan Makmur Satu Makmur Semuanya. Filosofi luhur ini beliau aplikasikan dalam semua kepemimpinannya saat itu.

Konsep “Tiji-Tibeh” menunjukkan semangat kebersamaan antara pemimpin dengan kawulanya. Pangeran Sambernyawa memang dikenal sebagai sosok pemimpin yang mau terjun langsung ke rakyatnya, dan menanggalkan batas antara kawula dengan gusti. Dalam setiap pertempuran, Pangeran Sambernyawa selalu bersedia turun langsung untuk membakar semangat dan kekompakan pasukannya. Setidaknya konsep Tiji Tibeh ini dikumandangkan pertama kalinya ketika Pangeran Sambernyawa beserta pasukannya berada di Peperangan Nglaroh.

Filosofi Tiji Tibeh ini juga diaplikasikan oleh Presiden kedua Indonesia Soeharto. Menjelang akhir kekuasaan rezim Soeharto, tiji tibeh disebut-sebut sebagai hal yang tersirat di balik pementasan wayang kulit lakon Semar mBabar Jatidiri yang digelar oleh Presiden RI selama 32 tahun tersebut. Dalam lakon pewayangan itu, Semar meninggalkan kerajaan Yawastina/Astina, karena seisi negara/ kerajaan dalam keadaan kacau, dan para penyelenggara negara telah melupakannya. Karena itu, para petinggi negara Yawastina mencari Semar untuk memberi wejangan.

Bahkan, AM Fatwa menyebut, berdasarkan penuturan dari Siti Herdiyanti Rukmana (Mbak Tutut-anak Soeharto) menyatakan bahwa Presiden Soeharto tidak ingin bertemu dengan BJ Habibie hingga akhir hayatnya karena filosofi Tiji Tibeh yang dianut oleh Presiden Soeharto. Presiden Soeharto menyatakan bahwa harusnya, ketika beliau mundur, BJ Habibie ikut mundur juga. Senasib Sepenanggungan.

Filosofi Tiji Tibeh makin luntur dalam suatu kepemimpinan di negeri ini, Indonesia. Makin menyiratkan bahwa adanya tidak kekompakan antara sesama pemimpin, apalagi dengan masyarakatnya. Jika rakyat merasa kesusahan, harusnya pemimpin ikut merasakannya. Sama-sama perut lapar.

Jika ada satu pemimpin, semisal kepala daerah mendapatkan kesusahan, harusnya wakil kepala daerah ikut menanggungnya. Bahkan, adanya kesan tersirat bahwa adanya persaingan antara kepala daerah/kepala negara dengan sang wakilnya. Bahkan, parahnya, ada yang saling guling menggulingkan di saat menjabat.

Disamping hubungan di saat memimpin tersebut, juga tersurat pasca memimpin. Adanya lepas tanggung jawab, lepas tangan jika ada masalah. Kurangnya kekompakan pertanggungjawaban atas apa yang telah dibuat semasa memimpin.

Semoga para pemimpin kita menyadari filosofi yang diwariskan oleh Pangeran Sambernyawa tersebut, agar adanya senasib sepenanggungan antara pemimpin dengan sesama pemimpin dan pembantunya, dan juga antara pemimpin dengan masyarakatnya.

* Telah diterbitkan di Koran Inforiau Edisi 24 Mei 2018