Semua itu Bermula dari Inalum
Oleh: Mawardi Tombang
Saya termasuk bangga dengan pencapaian pemerintah sekarang dengan membeli saham PT Freeport Indonesia (PTFI) sebesar 51% beberapa waktu yang lalu.
Walau aksi beli itu pro kontra. Saya termasuk yang tak menghirauan hal itu. Seburuk-buruk keadaan sekarang, jauh lebih buruk jika kita tak beli. Untung-untung sisa 49% dapat kita beli jauh lebih murah nantinya. Saya sesederhana itu berpikir. Walau tak se-Ampera yang disebelah.
Pemerintah membeli PTFI ini melalui perusahaan nasional yaitu PT Inalum.
Dari pada bercerita tentang plus minus aksi pembelian tersebut, saya lebih tertarik berbicara tentang PT Inalum. Aksi pembelian itu berjalan lancar karena PT Inalum dalam keadaan on fire alias jaya maksimal.
Jaya-nya PT Inalum tak terlepas dari kebijakan ekonomi SBY yang juga membeli PT Inalum dari Jepang saat itu, langsung 100%. Dibawah kepemimpinan Budi Sadikin, Inalum berubah menjadi perusahaan tambang kaya mapan dan disegani. Kekayaannya tak terhitung.
Inalum yang seksi ini tentu menjadi pertimbangan dari investor global untuk menanamkan modalnya. Bayangkan, ketika Inalum tak jadi dibeli SBY saat itu, tentu hari ini dan beberapa tahun ke depan atau bahkan puluhan tahun ke depan PTFI masih dikuasai Macmoran.
Inalum yang sehat, dapat membeli perusahaan sekelas PTFI. Bayangkan saja ketika PTFI yang sehat akan mampu mengakuisisi perusahaan atau Sumber Daya Alam kita lainnya.
Untuk sementara ini, kita doakan saja PTFI makin sehat dan kaya, nantinya semoga dia dapat mengakuisisi penguasaan SDA lainnya. Kalau di Riau, saya berharap PTFI dan INALUM dapat membeli PT RAPP atau PT Sinarmas nantinya.
Terus saja diangsur. Jangan diharap langkah besar berawal dari lompatan besar. Langkah besar itu selalu dimulai dari lompatan kecil dan pendek namun optimis dan konstan dalam menjalankannya.
Sukses terus buat Inalum dan PTFI. Mudah-mudahan PTFI dapat membeli perusahaan lainnya di Indonesia, khususnya di Riau nantinya.
MT
