Jangan Anggap Enteng soal Papua
Oleh Saidul Tombang
Pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur menjadi hambar karena kasus Papua. Cerita super besar ini tidak menarik karena masalah Papua jauh lebih penting. Bahkan termasuk ke dalam kategori emergency.
Demo Papua jangan dianggap biasa-biasa saja. Boleh jadi, perjuangan yang mereka lakukan sejak puluhan tahun lalu, sekaranglah saatnya mereka memasuki masa detik-detik kemerdekaan. Sekaranglah endingnya. Bisa jadi sekaranglah waktu yang tepat untuk menyatakan good bye kepada Indonesia.
Demo di Papua, pengibaran bendera Papua di mana-mana bahkan di depan Istana Presiden Indonesia, pemberontakan 50 tahun yang mereka lakukan, itu bukan hal yang biasa-biasa saja. Bukan tanpa rencana. Bukan tanpa dana. Bukan tanpa dukungan orang-orang ternama.
Mereka terorganisir. Punya bendera. Punya tentara. Punya jaringan internasional. Dan tentu saja mempunyai semangat yang sama. Perjuangan mereka untuk merdeka kini sudah menggelora di dada semua orang Papua. Semua!
Tak percaya? Coba kalau berani adakan referendum, kemenangan ingin merdeka bisa dipastikan di atas 90 persen!
Maka, Papua tidak sedang baik-baik saja. Anak bungsu itu sedang sekarat. Salah obat, Papua bisa lewat.
Herannya, Presiden Jokowi tidak menunjukkan tanda-tanda baik untuk mengatasinya. NKRI harga mati tak berlaku di kasus ini. Keganasan kelompok Jokowi terhadap HTI hilang seakan menjadikan Indonesia seperti ayam sayur. Padahal, kemenangan Jokowi di tanah Papua hampir 90 persen. Ada apa dengan Jokowi dan Papua?
Kita tak mau berpisah dengan adik bungsu. Dan, kalau buruk yang terjadi, maka yang paling bertanggung jawab adalah Jokowi. Karena, di tanah Papua berlaku pemeo; Jokowi harga mati, NKRI cukup sampai di sini.***
