Habis Akal pada Sinyal Sejengkal
Tiga hari di Kampar Kiri Hulu, selama itu pula saya hilang kontak dari dunia luar. Tak ada komunikasi sampai banyak yang mengira sudah mati.
Bukit Sianik adalah titik terakhir menikmati sinyal handphone. Bila bepergian ke Kamparkiri Hulu, singgahlah sekejap di Bukit Sianik. Teleponlah siapa yang perlu dihubungi. Ceklah status, berkirimlah pesan, dan lakukan aktivitas online. Karena, begitu turun dari bukit terjal dan menyeramkan ini, kita akan hilang kontak dengan dunia luar.
Negeri di hulu Kampar Kiri memang terisolasi dari dunia luar. Mulai dari Batu Sasak hingga Selosuong alias Desa Tanjung Permai, selain jalannya yang super buruk, kita juga tidak bisa melakukan aktivitas komunikasi dengan dunia luar.
Tapi, sebenarnya ada keajaiban pada setiap situasi. Terkait komunikasi, ternyata ada beberapa hotspot yang terpapar sinyal nyasar. Jumlahnya sangat sedikit. Mungkin untuk dua atau tiga desa, ada satu atau dua titik hotspot sinyal. Seperti di Batu Sasak, di rumah Syafriwal, Ketua DPC Partai Keadilan Sejahtera Kampar Kiri Tengah, ada satu titik hotspot sinyal handphone. Persisnya di pintu dapur belakang sebelah kiri.
Begitu juga untuk warga Selosuong, Pangkalan Kapas, dan Kebun Tinggi, ada beberapa titik kecil hotspot di bukit Batang Kundi.
Nah, hotspot ini benar-benar sangat tipis dan kecil. Sehingga warga menandainya dengan kayu pancang yang sering disebut tower oleh warga setempat. Pada tiang pancang itu sudah diberi tanda untuk meletakkan handphone. Nah, bila bergeser dua atau tiga jari saja, sinyal pun hilang. Itupun, untuk 'menjinakkan sinyal" harus menunggu beberapa waktu dan hanya beberapa jenis handphone saja yang bisa menangkapnya.
Pagi itu, saya beruntung mendapatkan sinyal di ujung tower kayu itu. Saya dapat mengabari keluarga karena tidak bisa pulang hari itu karena hujan yang menyebabkan jalan tak bisa dilalui. Saya juga dapat mengabarkan tim untuk mengensel beberapa kegiatan sosialisasi saya sebagai caleg PKS untuk DPRD Riau. Sinyal yang saya dapat hanya bertahan beberapa menit dan kemudian menghilang. Selebihnya, saya terpaksa menumpang tower milik orang lain.
Sampai kapan warga Kampar Kiri Hulu akan begini? Entahlah. Perlu kebijakan dan keberpihakan pemimpin yang baik untuk mengatasi masalah ini.***
SAIDUL TOMBANG
Caleg DPRD Provinsi Riau
Partai Keadilan Sejahtera
Nomor Urut 5
Daerah Pemilihan Kabupaten Kampar
