Salin Print
Rusidi Rusdan
Rusidi Rusdan - Ketua Bawaslu Provinsi Riau

Dua Azan di Perbatasan

Rusidi Rusdan
Sabtu, 5 Januari 2019 19:37:07
Masjid Babur Rahmah Padang Lawas Sumatera Utara

Oleh: Rusidi Rusdan

Ada kejadian menarik yang saya alami beberapa hari yang lalu. Dibaliknya ada keunikan dan hikmah yang terkandung. Tentu ini jadi hal menarik bagi saya untuk sekedar berbagi dengan para pembaca sekalian. Mudah-mudahan ada petikan hikmah atas kisah yang sedikit ada nilai kelucuannya.

Kejadian itu terjadi pada sore hari. Menyambut waktu ashar. Waktu di handphone (hp) saya menunjukkan pukul 15.35 WIB. Saat itu saya berada di kampung kelahiran, Dusun Gunung Intan Desa Tambusa Barat Kecamatan Tambusai Rokan Hulu. Merasa akan masuk waktu sholat Ashar, saya pun beranjak dan bergegas menuju masjid terdekat.

Seperti biasa, kalau kesini saya selalu sholat di Masjid Taqwa Muhammadiyah desa tetangga, yang hanya berjarak 1 km. Walaupun berjarak 1 kilo, bukan berarti satu desa. Masjid Taqwa ini terletak desa lain. Bukan desa lain saja, tapi sudah beda kabupaten bahkan provinsi. Desa tetangga ini namanya Desa Sungai Korang Kecamatan Hutaraja Tinggi (Huragi) Kabupaten Padang Lawas Provinsi Sumatera Utara. Maklumlah dusun kelahiran saya ini persis di perbatasan Riau-Sumut.

Sesampainya di Masjid Taqwa Muhammadiyah, ternyata tutup, belum satu orang pun nampak disana. Padahal waktu sudah masuk. Karena masjidnya tutup, saya beranjak, mencari masjid terdekat yang mudah-mudahan sudah azan. Saya cari masjid baru, mudah-mudahan masih terkejar shalat jamaah tepat pada waktunya. saya lanjut ke Masjid Babur Rahmah, masjid NU yang hanya berjarak lebih kurang 500 meter dari masjid Tawa tersebut.

Di masjid ini pun ternyata belum ada orang. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 15.50 WIB. Saya berpikir keras dan berbaik sangka, mungkin Warga desa ini sedang sibuk kerja. Takut waktu shalat sudah berlalu panjang, saya pun berinisiatif mengumandangkan azan. Setelah selesai azan, saya lihat belum juga ada jamaah yg datang. Sambil menunggu jamaah lainnya saya sholat sunat qobliyah ashar. Saat sholat sunnah itu sedang berlangsung, tetiba bergegas seorang jamaah (mungkin dia gharim di masjid ini) datang dan, astaga, dia azan lagi untuk kali kedua. Karena sedang shalat tentu saya tak dapat menegurnya.

Habis sholat sunat saya dengar ibu-ibu agak "ribut" di luar, bukannya mereka mau sholat Ashar tapi mungkin karna merasa aneh kok 2 kali azan pada Ashar ini yaa.

..."Aha de so dua kali halai on azan na..." (bahasa mandailing).

Artinya kira-kira "Kenapa mereka ini dua kali azannya?" Begitulah salah satu pertanyaan yang dapat saya tangkap.

Berselang tidak lama kemudian, dua tiga orang jamaah laki-laki pun mulai berdatangan. Mereka pun menanyakan hal yg sama.

Melihat "kegaduhan" ini saya coba jelaskan kronolgisnya.

"Oohh jadi ma azan hamu nakkinin ?? Mangido maaf da, Inda hu bege dabo, inda mar mik hamu langa?" kata sang gharim sambil tertawa dalam bahasa Mandailingnya.

Artinya kira-kira begini, "Oh jadi tadi bapak udah azan? Maaf saya tak mendengar. Tadi gak pake mic-ya?"

Saya balas "Inda pola i, manamba afdhol de i. (Gak masalah itu, nambah afdhol itu)" hehe...

Begitulah, terkadang kita "meributkan" sesuatu yang sebenarnya akan menambah fadhilla atau pahala. Allah memberi iktibar/hikmah atas semua hal yang telah terjadi.

* Ketua Bawaslu Riau