Salin Print
Saidul Tombang
Saidul Tombang - Pemimpin Redaksi

Ada Syaithan Tawaf di Ka'bah

Saidul Tombang
Senin, 29 Juli 2019 09:31:20

Oleh Saidul Tombang

Sejak diciptakan Allah, dua ribu tahun sebelum Adam dan Hawa diusir ke bumi, Ka'bah tak pernah putus ditawafi. Sejak belum berbentuk bangunan, dibangun Nabi Adam, hancur karena banjir Nabi Nuh, kembali dibangun Nabi Ibrahim dan Ismail, dipenuhi berhala, dibersihkan Nabi Muhammad dan sampai sekarang Ka'bah tak pernah putus dikelilingi untuk beribadah.

Bahkan ketika banjir, terbakar, atau saat mayat bergelimpangan pun di atap Ka'bah, bangunan kubus hitam ini tetap saja ditawafi. Rahasianya, ternyata kalau tak sedang ditawafi manusia, maka malaikatlah yang menawafinya.

Artinya, ada banyak malaikat di sekeliling Ka'bah. Ada malaikat yang ikut tawaf. Sebagian besar manusia tidak melihatnya, walaupun sebagian lain merasakan kedatangannya.

Tapi, syaithan ikut tawaf juga? Bukankah dia makhluk yang ingkar? Bagaimana mungkin ada syaithan di tengah manusia dan malaikat apalagi di tempat tersuci bernama Ka'bah?

Itulah dia. Syaithan yang tawaf ini berkepala hitam. Kadang berbadan besar namun sering juga berbadan kecil. Sebagian besarnya ternyata berbahasa Indonesia. Kerjanya juga 'tawaf'. Tapi bukan untuk beribadah. Di seputaran Ka'bah itu mereka mencari mangsa. Hal yang pertama dilakukannya adalah mencopet. Mengambil harta orang-orang yang tawaf. Handphone, dompet, menyayat tas untuk mencari duit, dan lainnya.

Kerumunan yang maha ketat itu, terutama di sekitar Hajar Aswad dan Hijir Ismail, memberi kesempatan kepadanya untuk leluasa mencopet. Untuk mencapainya butuh perjuangan setengah mati. Kita orang Indonesia, kebanyakan terkepit di ketiak dan dibasuh keringat orang negro berbadan besar.

Di sana tak ada yang peduli apa yang terjadi di sekelilingnya. Semua orang terfokus untuk menyentuh dan mencium Hajar Aswad atau dapat sholat di Hijir Ismail. Maka tak ada pengawalan apa-apa atas barang pribadi, apalagi milik orang lain.

Menjadi pemandangan biasa kalau setelah tawaf banyak yang menangis; bukan karena ingat dosa, tapi karena dompet dan handphone hilang, tas sudah disayat-sayat.

Kerjaan syaithan yang lain adalah menjadi joki. Agen. Calo. Mereka menawarkan pekerjaan yang maha berat, yaitu menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Batu hitam yang terpatri di cekungan kecil ini memang istimewa. Dia mampu merekam siapapun yang menyentuhnya sampai kiamat tiba. Doa pun maqbul di sini. Apalagi setelah menyentuhnya kita punya kesempatan pula berdoa di Multazam, yaitu kawasan antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah yang berjarak hanya 1.5 meter, tentu fadhilahnya luar biasa. Namun untuk mencapainya harus berhadapan dengan risiko. Bahkan silap-silap bisa mati.

Nah, fadhilah dan bahaya inilah yang ditawarkan para joki alias calo itu. Biasanya mereka terdiri dari beberapa orang. Mungkin dua sampai empat orang. Dia menawarkan jamaah untuk bisa ke hajar aswad. Tentu saja dengan sejumlah bayaran. Kadang 200 riyal namun tak jarang di atas 500 atau seribu riyal.

Bila deal, mereka akan membentuk pasukan berani mati. Menyeruak kerumunan ketat. Bila perlu main tarik, main sikut, main tendang, tentu saja semuanya dengan paksa. Sejengkal demi sejengkal dia beri laluan kepada orang yang membayarnya. Bila sudah sampai, mereka buat pagar betis supaya klien mereka dapat mencium Hajar Aswad secara leluasa.

Jangan coba tak bayar. Banyak jamaah yang dikejar hingga ke kamar hotel untuk menagih jasa mereka.***

Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Ekonomi
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Indonesia Bidik Industri Chip Global, 15.000 Tenaga Ker
BGN Coret 80 Sekolah Swasta Elite dari Penerima MBG, Ad
Politik
PKS Buka Peluang Pansus Ijazah Gibran, Jimly Asshiddiqie Harap Partai Lain Ikut Bergerak
PKS Buka Peluang Pansus Ijazah Gibran, Jimly Asshiddiqie Harap Partai Lain Ikut Bergerak
PKS Tanggapi Wacana Pansus Ijazah Gibran, Mardani Nilai
Tiga Partai Koalisi Belum Dukung Prabowo di Pilpres 202
Pendidikan
Prof. Ahmad Fadli Raih Suara Terbanyak Pemilihan Rektor Unri, Panitia: Menunggu Pelantikan
Prof. Ahmad Fadli Raih Suara Terbanyak Pemilihan Rektor Unri, Panitia: Menunggu Pelantikan
Kuliah Sambil Beternak Kambing, Auria Lulus UB dengan I
Dua Guru Besar UIN Jakarta Masuk Top 2% Ilmuwan Dunia 2
Hukum
Kepala BNPB Kristomei Sianturi Janji Benahi Internal, Tegaskan Tak Intervensi Kasus KPK
Kepala BNPB Kristomei Sianturi Janji Benahi Internal, Tegaskan Tak Intervensi Kasus KPK
Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB Tuai Kecaman DPR, KPK
KPK Gelar OTT di BNPB, Sejumlah Pihak Diamankan dan Dip
Daerah
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Bupati Kampar Pastikan Bara Karhutla di Rimbo Panjang B
Hadirkan Koh Dennis Lim, Jambore BKPRMI Riau 2026 Usung
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan
Entertainment
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Salman Borneo, Pengisi Suara Plankton dan Giant di Film
Hendry Munief  Dorong Pemerintah untuk Hadir Bantu Ind